Auto Login Tectia SSH

•November 22, 2008 • Leave a Comment

Salah satu server Performance tempatku saat ini menggunakan SSH Tectia (OSnya HP Openview). Semua file Performance Measurement harus di transafer ke server tersebut secara periodik.
Sempet seharinyan mencari cara agar bisa ssh tanpa password. Dengan cara biasa, menambahkan isi file public key ke file authorized_key, ternyata gak jalan.
Setelah bekerja sama dengan om google, ketemu juga cara berikut.
1. Copy file public key ke directory ~/.ssh2 di server tujuan. Misalnya nama filenya jadi ~/.ssh2/foo.pub
2. Buat/edit file ~/.ssh2/authorization, dan tambahkan baris berikut :
   key foo.pub
3. Jangan lupa periksa permission filenya. Permision file seharusnya 6-2-2

Fiskal Gratis ?

•March 18, 2008 • Leave a Comment

Setiap pergi keluar negeri, kita diwajibkan membayar fiskal sebesar satu juta rupiah jika perjalanan kita menggunakan pesawat udara dan limaratus ribu rupiah jika menggunakan kapal laut. Fiskal adalah pajak penghasilan orang pribadi yang akan bertolak ke luar negeri. Kebijakan ini diatur oleh peraturan pemerintah no. 40 tahun 2000. Konon kebijakan ini dikeluarkan untuk pemerataan, karena yang bepergian ke luar negeri dianggap mampu secara financial.

Bagi kita yang tinggal lama di luar negeri, kita bisa mengajukan bebas fiskal ketika kita berangkat. Beberapa hal yang bisa menjadikan kita bebas diskal diatur dalam PP no. 40/2000, diantaranya :
WNI yang bertempat tinggal tetap di luar negeri dan mempunyai tanda pengenal sebagai penduduk setempat dan tidak menenerima penghasilan dari indonesia, berada di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka 12 bulan dan pembebasan tersebut hanya berlaku 4 kali dalam satu tahun takwim.
Jadi bagaimana cara mendapatkannya ?
1. Kita lapor ke KBRI setempat sebagai penduduk luar negeri di negara tersebut. KBRI akan memberikan keterangan tersebut disertai tandatangan pejabat di passport kita.
2. Sewaktu kita akan berangkat lagi, kita mengisi formulir permohonan bebas Fiskal di bandara. Formulir bisa juga didownload di sini, supaya kita bisa isi sebelum berangkat ke bandara :)
3. Kita serahkan formulir dan passport kita ke petugas pajak di counter bebas fiskal di bandara. Pastikan waktu kedatangan kita yang terakhir dan keberangkatan tidak lebih dari 6 bulan.

Prosesnya cukup cepat dan tidak ribet, tergantung antrian. Selamat mencoba.

Mengidentifikasi Server Linux

•January 23, 2008 • Leave a Comment

LINUX yang kita ketahui bersama merupakan sistem operasi open source, saat ini sudah digunakan sebagai system operasi untuk aplikasi-aplikasi enterprise. Beberapa varian linux juga sudah dibuat khusus untuk kelas ini.

Di dunia telekomunikasi  terutama Value Added Service (VAS), banyak sekali product-product yang menggunakan sistem operasi Linux, bahkan network element yang menangani trafik besar sekalipun, seperti SMSC, Voice Mail System dan sebagainya.

Seringkali kita harus menghandle aplikasi-aplikasi yang sudah lfve, dan kita tidak tahu spesifikasi dari server yang digunakan. Hal ini sering dialami oleh kontraktor yang sering kali harus pindah dari satu kontrak kerja ke kontrak kerja yang lainnya. Untuk mesin- mesin yang berjalan di atas SUN Solaris, mungkin dengan satu perintah uname, kita sudah bisa mengidentifikasi server kita. Bagaimana dengan Linux yang punya banyak varian itu ?
Berikut ini beberapa cara sederhana untuk mengidentifikasi server Linux :

1. Varian LINUX yang dipakai
$ cat /proc/version
Linux version 2.4.21-27.0.4.ELsmp (
bhcompile@porky.build.redhat.com) (gcc version 3.2.3 20030502 (Red Hat Linux 3.2.3-52)) #1 SMP Sat Apr 16 18:43:06 EDT 2005

atau

$ cat /etc/issue
Red Hat Enterprise Linux AS release 3 (Taroon Update 4)

2. Tipe Server (manufacture, model dan serial number)
$ dmidecode | less
Cari kata Manufacture, maka akan ditemukan output seperti contoh berikut :
DMI type 1, 25 bytes.
          System Information
                  Manufacturer: HP
                  Product Name: ProLiant DL380 G4
                  Version: Not Specified
                  Serial Number: GB8624A98B
                  UUID: 33373837-3339-4742-3836-323441393842

3. Informasi tentang processor
$ cat /proc/cpuinfo

4. Informasi memory
$ cat/proc/meminfo
 

Monitoring Server dan Aplikasi Menggunakan MRTG

•January 17, 2008 • 4 Comments

Mungkin bagi para administrator network/server hal ini sangat mudah dilakukan, tapi buat engineer telekomunikasi yang lebih banyak bermain dengan routing, ngoprek SS7 dan sebagainya, tulisan singkat ini cukup berguna.

MRTG (Multi Router Traffic Grapher) adalah sebuah alat bantu gratis yang sangat bermanfaat untuk memonitor traffic dan resource load di system kita. MRTG dapat menerima input dari SNMP maupun script yang kita buat sendiri. Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana mengkonfigure mrtg untuk memonitor aplikasi yang berjalan di platform UNIX. Input dari MRTG yang dicontohkan adalah script yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kita. Berikut ini langkah-langkah untuk mengkonfigure MRTG sesuai dengan kebutuhan kita :

1. Siapkan sebuah server yang bisa kita pakai untuk menempatkan MRTG application. Requirement dari server ini adalah mempunyai web server dan terhubung dengan server-server aplikasi yang akan kita monitor. Sebaiknya server ini berbasis linux/unix agar mudah berkomunikasi dengan dengan server aplikasi yang akan kita monitor, yang berbasis linux/unix juga.

2. Download MRTG dari www.mrtg.org dan install pada server MRTG.

3. Buat script untuk input MRTG. Sebagai contoh kita akan memonitor CPU load dari server POCR-AAP1. Script kita buat pada MRTG server sebagai berikut :

$ vi/opt/mrtg/bin/cpuload-pocr_app1.sh

#!/bin/bash

ssh pocr-app1 sar -u 1 2 | grep Average | awk ‘{printf “%s\n%s\n”,$2,100-$5}’

ssh pocr-app1 uptime | sed ‘s/,//g’ | awk ‘{printf “%s days, %shours\n%s\n”,$3,$5,”POCR-APP1″}’

4. Copy isi file ~/.ssh/id_rsa.pub MRTG Server ke file ~/.ssh/authorized_keys pada server aplikasi, sehingga pada saat eksekusi script (yang menggunakan ssh), server aplikasi tidak akan meminta password. Sesuaikan dengan versi ssh yang digunakan.

5. Buat file konfigurasi mrtg untuk keperluan tersebut. File konfigurasi dapat digenerate dengan perintah cfgmaker. Atau copy konfigurasi file berikut :

$ vi /opt/mrtg/conf/cpu-pocr_app1.cfg

WorkDir: /var/www/mrtg

Title[pocr-app1.load]: PoCR-APP01 CPU load

PageTop[pocr-app1.load]: <H1>PoCR-APP01 CPU load</H1>

Target[pocr-app1.load]: `/opt/mrtg/bin/loadpocrapp1.sh`

Options[pocr-app1.load]: gauge,absolute,integer,growright

MaxBytes[pocr-app1.load]: 100

YLegend[pocr-app1.load]: percent

ShortLegend[pocr-app1.load]: %

LegendI[pocr-app1.load]: % of User:

LegendO[pocr-app1.load]: % of Total:

Sesuaikan parameter WorkDir dengan konfigurasi web server kita. Target adalah parameter target pengukuran, dalam contoh ini adalah script yang sudah kita buat pada langkah 3.

6. Jalankan MRTG dengan file konfigurasi yang sudah dibuat :

$ env LANG=C /usr/bin/mrtg /opt/mrtg/conf/cpu-pocr_app1.cfg

Jika tidak ada error yang muncul, jalankan perintah ini setiap 5 menit dengan crontab.

7. Buat index halaman web yang akan menampilkan hasil pengukuran. Halaman index ini bisa kita generate dengan perintah indexmaker.

$ indexmaker mrtg_config_file1 mrtg_config_file2 … > output_file

Halaman index bisa menampilkan beberapa pengukuran sekaligus.

$ indexmaker /opt/mrtg/conf/cpu-acpfe1.cfg /opt/mrtg/conf/cpu-acpfe2.cfg /opt/mrtg/conf/cpu-pocr_app1.cfg > /var/www/mrtg/index.html

8. Cek hasil pekerjaan kita dengan browser.

Download versi PDF disini (dilengkapi dengan contoh tampilan browser)

Family Name

•December 16, 2007 • 1 Comment

Percakapan di sebuah counter imigrasi bandara international :
me        : Assalamu’alaykum
Officer : Wa’alaykummusalam
me        : Kaifa Haluk ?
Officer : Alhamdulillah (sambil periksa passport). Indonesi ? muhandis ? masyaAllah …
me        : Alhamdulillah
Officer : What is your family name ? write here (sambil ngasih entry form yang gak tak isi family namenya)
me        : w a r d o y o (mengeja sambil ngisi form).
Officer : Where is it (sambil bolak balik pasport beberapa menit hehehe) … ok mafi muskila
me       : syukron (hmmm … lepas juga akhirnya)

Di banyak negara sering kali mempermasalahkan seseorang dengan nama tunggal (single name). Sering kali family name menjadi field yang mandatory untuk di isi. Kita sering mengenal family name ini dengan nama belakang. Bahkan negara tertentu tidak bisa menerbitkan Visa jika tidak mempunyai nama belakang. Pengalaman seorang teman yang sudah diterima bekerja di luar negeri, harus menunggu lebih dari sebulan gara-gara dia punya nama tunggal.

Imigrasi Indonesia mempunyai solusi untuk masalah ini. Kita diperbolehkan menambahkan nama orang tua kita di passport. Caranya, datang ke kantor imigrasi dengan menunjukkan akte kelahiran.

Sodara-sodara, karena hal itulah display name di emailku menjadi Purnomo Wardoyo :)

Expat

•November 1, 2007 • 1 Comment

Menurut wikipedia expatriat dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tinggal di negeri yang bukan asalnya. Expatriat berasal dari bahasa latin, ex (luar), patria (negara). Sering kali ada yang menyebut ex-pariot dan banyak yang menyingkatnya jadi expat.
Saat ini definisi expat bergeser menjadi tenaga ahli yang didatangkan dari luar negeri. Pada umumnya mereka bergaji tinggi dan mendapat fasilitas yang bagus.

Yang dari dulu salalu menjadi pertanyaan dalam benakku, kenapa para expat ini mendapatkan fasilitas yang jauh lebih bagus dibanding dengan orang lokal yang kadang kala level pekerjaannya sama.
Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab sudah setelah beberapa bulan mengadu nasib di luar negeri. Beberapa hal yang aku rasakan sebagai kompensasi segala fasilitas seorang expat.
1. Harus siap berpindah dari kontrak yang satu ke kontrak yang lain. Hal ini bisa sebagai tantangan tetapi bisa juga jadi siksaan bagi orang-orang yang menyukai kemapanan. Seorang expat harus bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru secara cepat.
2. Urusan imigrasi sering kali membuat seorang expat tidak bisa membawa serta keluarganya. Bukan hal yang mudah hidup jauh dari orang-orang tercinta.
3. Nongkrong haha hihi di kantin selepas kerja, gorengan pinggir jalan, pecel kediri kalibata dan segala sesuatu yang “indonesia banget”, memang tak terbeli dengan uang :)

Ketika mencoba posting beberapa vacant overseas di sebuah milist, seorang sahabat selalu menanggapi dengan berbagai hal tentang pilihan menjadi expat. Dalam satu tanggapannya yang kesekian kali, sempat tertulis “Lha wong gak bisa survive di negeri sendiri kok bangga ?”.
Tidak menutup kemungkinan ada yang menjadi expat karena tidak bisa survive dalam kerjaan, kehidupan pribadi maupun bermasyarakat di negeri sendiri. Tetapi kebanyakan teman-teman yang meninggalkan tanah air menjadi expat di berbagai negara, mempunyai skill yang sangat bagus dan sangat laku “dijual” ditanah air. Kehidupan ditengah masyarakat multinasional juga menuntut mereka untuk menunjukan bahwa orang-orang Indonesia mampu bersaing di lingkungan global.

jadi, terlepas dari apapun alasannya yang penting adalah kontribusi yang diberikan terhadap bangsa. Ditengah-tengah citra buruk terhadap indonesia, para expat ini berusaha menunjukan profesionalisme di lingkungan mereka. Dan yang tak kalah pentingnya mereka ikut berperan dalam pendapatan devisa negara.

First Time

•March 31, 2007 • 1 Comment

Sudah lama sebenernya pengen belajar nulis dan sudah lama juga tahu yang namanya blog, tapi baru sekarang tergerak hati untuk membuatnya.

Well … lets introduce myself, terlahir di dunia dengan nama Purnomo. Mungkin bapak ibuku berharap aku jadi pejabat dengan memberiku nama singkat padat layaknya para pejabat orde baru :) Lulus dari jurusan elektro sebuah sekolah tinggi telekomunikasi di Bandung,  yang dianggap salah jurusan oleh temen-temen seperjuangan (baca : sependeritaan) . Dengan blog ini, berharap bisa share tentang teknologi, pengetahuan, cerita dan apapun yang bisa dishare. Lets start ……….

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.